Infiltrasi Air
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Infilrasi merupakan proses masuknya air dari permuakan kedalam tanah.
Infiltarasi berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran permukaan atau
run off. Infiltrasi dari segi hidrologi penting, karena hal ini menandai
peralihan air permukaan yang bergerak cepat ke air tanah yang bergerak lambat
dari air tanah.( Hardjowigeno, 1993).
Kapasitas infiltrasi suatu tanah dipengaruhi sifat–sifat fisiknya drajat
kemapatannya, kandungan air dan permiabilitas lapisan bawah permukaan nisbi air
dan iklim mikro tanah. Air yang berinfiltrasi pada suatu tanah hutan karena
pengaruh gravitasi dan daya tarik kapiler atau disebabkan pula oleh tekanan
dari pukulan air hujan pada permukaan tanah. Proses berlangsungnya air masuk ke
permuakan tanah kita kenal dengan infiltrasi. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh
tekstur dan struktur, kelengasan tanah, kadar materi tersuspensi dalam air juga
waktu (Suripin, 2001).
Untuk
mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
• Inflow-outflow
• Analisis data hujan dan
hidrograf
• Double ring inflometer
Dari ketiga cara tersebut
yang paling sering digunakan pengukuran infiltrasi dilapangan yaitu dengan
menggunakan double ring inflometer. Double ring infiltometer merupakan cara
yang termudah dilakukan dimana selain pengukuran yang mudah dilakukan juga
bahan untuk membuat alatnya mudah dicari (Rully, 2001).
Dalam
bidang konservasi tanah, infiltrasi merupakan komponen yang sangat penting
karena masalah konservasi tanah pada azasnya adalah pengaturan hubungan antara
intensitas hujan dan kapasitas infiltrasi, serta pengaturan aliran permukaan.
Aliran permukaan hanya dapat diatur dengan memperbesar kemampuan tanah
menyimpan air, utamanya dapat ditempuh melalui perbaikan atau peningkatan
kapasitas infiltrasi. Kapasitas infiltrasi merupakan laju maksimum air yang
dapat masuk ke dalam tanah pada suatu saat (Kurnia, dkk, 2006).
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh
lahan yang bervegetasi rumput dan tidak bervegetasi terhadap infiltrasi.
TINJAUAN PUSTAKA
Infiltrasi
adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan) masuk ke dalam
tanah. Laju maksimal masuknya air masuk ke dalam tanah dinamakan kapasitas
infiltrasi. Kapasitas infiltrasi terjadi ketika intensitas hujan melebihi
kemampuan tanah dalam menyerap kelembaban tanah. Sebaliknya, apabila intensitas
hujan lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sama dengan
curah hujan. Laju infiltrasi umumnya dinyatakan dalam satuan yang sama dengan
satuan intensitas curah hujan, yaitu millimeter perjam (Asdak, 1995).
Apabila
kapasitas infiltrasi lebih kecil dari intensitas hujan, dapat menyebabkan
terjadinya banjir dan erosi. Laju infiltrasi pada suatu lokasi akan berbeda
dengan lokasi lainnya, bergantung pada berbagai faktor seperti tekstur tanah,
bahan organik, struktur tanah, kadar air tanah, porositas tanah. Besarnya laju
infiltrasi dapat ditentukan melalui suatu model yang telahdikembangkan oleh para
peneliti, diantaranya adalah model yang dikembangkan oleh Philips. Pengetahuan laju
infiltrasi pada suatu lokasi atau wilayah sangat penting, terutama pada daerah dengan
curah hujan tinggi dan berlereng dengan kecuraman
tinggi untuk
mengantisipasi kemungkinan terjadinya run off dan erosi dalam mempertahankan
kelestarian lahan (Asdak, 2002).
Infiltrometer merupakan suatu tabung baja silindris
pendek, berdiameter besar (suatu batas kedap air lainnya) yang mengitari suatu
daerah dalam tanah. Ring infiltrometer utamanya digunakan untuk menetapkan
infiltrasi komulatif, laju infiltrasi, sorptivitas dan kapasitas infiltrasi.
Ada dua bentuk ring infiltrometer, yaitu single ring infiltrometer dan double
atau concentric-ring infiltrometer. Single ring infiltrometer umumnya berukuran
diameter10-50 cm dan panjang atau tinggi 10-20 cm. Ukuran double ring
infiltrometer adalah ring pengukur/ring dalam umumnya berdiameter 10-20 cm,
sedangkan ring bagian luar (ring penyangga/buffer ring) berdiameter 50 cm.
Untuk tujuan tertentu sering digunakan ukuran ring yang lebih besar atau lebih
kecil. Namun demikian, penggunaan ring yang terlalu kecil juga menyebabkan
semakin tingginya tingkat kesalahan (error) pengukuran (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2006).
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju
infiltrasi adalah tekstur tanah, kerapatan massa (bulk density), permeabilitas,
kadar air tanah dan vegetasi. Semakin rendah nilai kerapatan massa (bulk
density) tanah, semakin besar volume pori tanah, dan semakin remah tanahnya
maka laju infiltrasi akan semakin besar. Bila ditinjau dari sudut vegetasi maka
semakin besar penetrasi akar, semakin besar daya serap akar, semakin tinggi
akumulasi bahan organik tanah maka laju infiltrasi akan semakin besar (Asdak,1995).
Beberapa faktor internal dan
eksternal yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah tinggi genangan air di atas
permukaan tanah dan tebal lapisan tanah yang jenuh, kadar air atau lengas
tanah, pemadatan tanah oleh curah hujan, penyumbatan pori tanah mikro
oleh partikel tanah halus seperti bahan endapan dari partikel liat, pemadatan
tanah oleh manusia dan hewan akibat traffic line oleh alat olah, struktur
tanah, kondisi perakaran tumbuhan baik akar aktif maupun akar mati (bahan
organik), proporsi udara yang terdapat dalam tanah, topografi atau kemiringan
lahan, intensitas hujan, kekasaran permukaan tanah, kualitas air yang akan
terinfiltrasi serta suhu udara tanah dan udara sekitar (Sophia, 2011).
Sifat bagian lapisan suatu profil
tanah juga menentukan kecepatan masuknya air ke dalam tanah. Ketika air hujan
jatuh di atas permukaan tanah, maka proses infiltrasi tergantung pada kondisi
biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan
mengalir masuk ke dalam tanah melalui pori- pori permukaan tanah. Proses
mengalirnya air hujan ke dalam tanah disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi dan
gaya kapiler tanah. Oleh karena itu, infiltrasi juga biasanya disebut
sebagai aliran air yang masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler dan
gravitasi. Laju air infiltrasi yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi dibatasi
oleh besarnya diameter pori-pori tanah. Tanah dengan pori-pori jenuh air
mempunyai kapasitas lebih kecil dibandingkan dengan tanah dalam keadaan kering (Sophia, 2011).
Persamaan laju infiltrasi adalah laju air yang meresap ke dalam tanah, yang
besarnya dinyatakan dalam mm/jam. Laju infiltrasi ini sangat besar pengaruhnya
di dalam rancangan-rancangan untuk cara pemberian air, periode dan lamanya
pemberian air beserta besarnya air yang harus diberikan. Kemampuan tanah
menyerap air akan semakin berkurang dengan makin bertambahnya waktu. Pada
tingkat awal kecepatan penyerapan air ini akan mendekati konstan. Laju
infiltrasi (f) kapasitas infiltrasi (fp). Hal ini di pengaruhi oleh intensitas
hujan. Jika intensitas hujan < kapasitas infiltrasi
maka laju infiltrasi akan < kapasitas infiltrasi, dan jika > maka laju
infiltrasi akan = kapasitas infiltrasi. Persamaan Horton (1930) : f = fc + (f0-fc)
e(-kt). Dimana : f = kapasitas infiltrasi pada saat t (cm/jam) = kapasitas
infiltrasi pada saat konstan (cm/jam) = kapasitas infiltrasi pada saat awal
(cm/jam) k = konstanta t = waktu dari awal hujan e = 2.718 (Rully, 2001).
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan pada praktikum ini adalah air yang digunakan sebagai bahan utama infiltrasi
pada tanah yang bervegatasi.
Alat
Alat pada praktikum ini adalah sebagai berikut : double ring infiltrometer sebagai alat
infiltrasi, ember sebagai tempat menuangkan air, plastik sampah besar sebagai
penyangga air sebelum menuangkan ke tanah, palu sebagai pemukul balok kayu,
balok kayu untuk memudahkan alat untuk menancapkan ke tanah, stopwach sebagai
penghitung waktu infiltrasi, penggaris sebagai alat pengukur tinggi air, dan
alat tulis untuk mencatat hasil infitrasi.
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksankan pada hari Sabtu 3 Desember
2016 pada jam 08.00-10.00 WITA. Tempat pelaksanaan di Fakultas Pertanian Universitas
Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Prosedur kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini adalah
sebagai berikut:
1.
Menyiapkan alat dan bahan
untuk infiltrasi.
2.
Posisikan tabung bagian dalam dengan sisi tajam mengarah ke bawah.
3.
Meletakkan balok kayu pengatur diatas tabung dan gunakan palu untuk memasukkan tabung dengan
kedalaman kurang lebih 5 cm ke dalam tanah.
4.
Lakukan dengan hati-hati sehingga tidak merusak tanah. Letakkan tabung bagian
luar dan dengan bantuan balok kayu pengatur serta palu masukkan tabung bagian luar tersebut ke dalam tanah
sehingga ketinggian ke dua tabung tersebut sama.
5.
Isi ring bagian luar
dengan air secukupnya agar bagian dalam saat diisi air tidak merembes ke
samping.
6.
Masukkan dan sangga ring
bagian dalam dengan plastik besar, kemudian isi dengan air.
7.
Tarik sedikit demi sedikit
plastik penyangga tersebut agar tidak merusak struktur tanahnya, kemudian
telakkan penggaris untuk mengukur tinggi air dan infiltrasinya.
8.
Mencatat data infiltrasi
dan melihat waktunya dengan stopwach.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari praktikum ini berupa tabel pengamatan infiltrasi di lapangan menggunakan double ring
infiltrometer.
Tabel 1. Hasil Pengamatan
infiltrasi di lahan bervegetasi rumput.
|
Waktu kumulatif
(detik)
|
Waktu (s)
|
tinggi air (cm)
|
f (cm/s)
|
|
0,0
|
0,26
|
||
|
7,8
|
7,8
|
2
|
0,10
|
|
28,7
|
20,9
|
2
|
0,09
|
|
50,4
|
21,7
|
2
|
0,07
|
|
79,0
|
28,6
|
2
|
0,06
|
|
113,0
|
34
|
2
|
0,05
|
|
153,0
|
40
|
2
|
0,05
|
|
193,0
|
40
|
2
|
0,05
|
|
233,0
|
40
|
2
|
|
Waktu (menit)
|
|
|
0
|
15,38
|
|
0,13
|
5,74
|
|
0,48
|
5,53
|
|
0,84
|
4,2
|
|
1,32
|
3,53
|
|
1,88
|
3
|
|
2,55
|
3
|
|
3,22
|
3
|
|
Fo =
|
m =
|
-0,980
|
||
|
Fc =
|
K=
|
= -1/(0,434*m)
|
||
|
e =
|
Tabel 2. Hasil pengamatan infiltrasi di lahan
tidak bervegetasi rumput.
|
Waktu
kumulatif (detik)
|
Waktu
(s)
|
tinggi
air (cm)
|
f
(cm/s)
|
|
0,0
|
0,00228
|
||
|
438,0
|
438
|
1
|
0,00149
|
|
1107,0
|
669
|
1
|
0,00114
|
|
1985,0
|
878
|
1
|
0,00091
|
|
3089,0
|
1104
|
1
|
0,00072
|
|
4469,0
|
1380
|
1
|
0,00061
|
|
6112,0
|
1643
|
1
|
0,00026
|
|
8023,0
|
1911
|
0,5
|
0,00024
|
|
10074,0
|
2051
|
0,5
|
0,00022
|
|
12300,0
|
2226
|
0,5
|
|
Waktu
(menit)
|
|
|
0,00
|
0,137
|
|
7,30
|
0,090
|
|
18,45
|
0,068
|
|
33,08
|
0,054
|
|
51,48
|
0,043
|
|
74,48
|
0,037
|
|
101,87
|
0,016
|
|
133,72
|
0,015
|
|
167,90
|
0,013
|
|
Fo =
|
0,14
|
m =
|
-63,080
|
|
|
Fc =
|
0,01
|
K=
|
0,037
|
= -1/(0,434*m)
|
|
e =
|
2,718
|
Pembahasan
Infilrasi merupakan proses masuknya air dari permuakan
kedalam tanah. Infiltarasi berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran
permukaan atau run off. Infiltrometer
merupakan suatu tabung baja silindris pendek, berdiameter besar (suatu batas
kedap air lainnya) yang mengitari suatu daerah dalam tanah. Ring infiltrometer
utamanya digunakan untuk menetapkan infiltrasi komulatif, laju infiltrasi,
sorptivitas dan kapasitas infiltrasi. Ada dua bentuk ring infiltrometer, yaitu
single ring infiltrometer dan double atau concentric-ring infiltrometer.
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi
adalah tekstur tanah, kerapatan massa (bulk density), permeabilitas, kadar air
tanah dan vegetasi. Semakin rendah nilai kerapatan massa (bulk density) tanah,
semakin besar volume pori tanah, dan semakin remah tanahnya maka laju
infiltrasi akan semakin besar.
Pada setiap menit kecepatan infiltrasi menurun karena
dipengaruhi oleh tinggi genangan air di atas permukaan tanah dan tebal lapisan
tanah yang jenuh air, pada awal genangan air diatas tanah tinggi maka
kecepatan infiltrasi akan tinggi, karena tarikan gaya gravitasi dan gaya kapiler tanah yang
besar. Oleh karena itu, infiltrasi juga biasanya disebut sebagai aliran
air yang masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler dan gravitasi. Sedangkan
pada akhir atau setelah lama laju infiltrasi akan menurun karena pori-pori
tanah sudah terisi dengan air, kadar penyerapan air dalam tanahnya sudah jenuh
menyebabkan laju infiltrasi menurun.
Dari
hasil praktikum diatas, pada tabel 1 infiltrasi pada lahan yang bervegatasi
cenderung laju infiltrasinya cepat, bisa dilihat dari konstanta (K) pada lahan
yang bervegetasi yaitu 2,35. Hal ini disebabkan oleh faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi pada
lahan yang bervegatasi, yaitu adanya
vegetasi pada suatu lahan akan berarti
banyak terdapat akar pada vegetasi tersebut, adanya akar juga mempengaruhi
pori-pori tanah , semakin
besar penetrasi akar, semakin besar daya serap akar, semakin tinggi akumulasi
bahan organik tanah maka laju infiltrasi akan semakin besar. Pada grafiknya
juga terlihat laju infiltrasi yang cepat pada awal waktu pertama, hal ini
karena pada tanahnya mempunyai pori-pori yang belum terpenuhi air dan jenuh air
serta akibat gaya gravitasi, pada waktu yang semakin lama laju infiltrasi akan
menurun dan konstan karena pori-pori tanah sudah terpenuhi airdan lajunya
konstan.
Pada tabel 2 infiltrasi pada lahan yang tidak
bervegetasi rumput nilai konstanta (K) yaitu 0,037. Ini berarti nilai konstanta
atau kecepatan infiltrasinya lebih rendah dibandingkan dengan lahan yang
bervegetasi rumput karena
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut
:
1.
Saran
Praktikum
ini sebaiknya lebih dipelajari dan
dipahami lagi untuk bisa diaplikasikan dalam kemampuan infiltrasi sebuah lahan
untuk digunakan dalam bidang pertanian dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Asdak, Chay. (1995).
Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran
Air Sungai. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press Yogyakarta.
Asdak.
C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2006. Balai Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Bogor.
Hardjowigeno, S., 1993. Klasifikasi
Tanah Dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta. 320 Hal
Kurnia,
U., dkk., 2006. Sifat Fisik Tanah dan
Metode Analisisnya. Balai Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.
Rully, Yanrilla. 2001. Besarnya
Laju Infiltrasi pada Berbagai Jenis Penutupan Lahan.
Sophia N.P. 2011. Penuntun
Praktikum Hidrologi. Jatinangor: Jurusan Teknik dan Manajemen Industri
Pertanian Universitas Padjadjaran.
Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air.
Penerbit Andi, Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar