Translate

Selasa, 24 April 2018

Biopestisida ekstrak Babadotan


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Banyaknya kandungan unsur hara yang ada di dalam lahan pertanian yang ada di lahan dapat dilihat secara sederhana dari penampakan warna tanaman di Lahan. Misalnya ada tanaman yang terlihat hijau sementara yang lainnya terlihat kekuningan. Tanaman hijau menggambarkan bahwa tanah tersebut mempunyaicukup unsur hara. Sedangkan tanaman yang berwarna kuning biasanya menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak cukup mempunyai unsur hara.
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia (Suriadikarta. 2006)
 Setiap tahun ribuan hektar lahan yang subur berkurang akibat penggunaan pupuk kimia. Sungguh ironis, menggunakan racun untuk meningkatkan produksi pangan bagi kehidupan. Tidak heran bila kesehatan dan daya tahan tubuh manusia terus merosot. Penggunaan pupuk organik tidak meninggalkan residu yang membahayakan bagi kehidupan. Pengaplikasiannya mampu memperkaya sekaligus mengembalikan ketersediaan unsur hara bagi tanah dan tumbuhan dengan aman (Suriadikarta. 2006)
Pupuk adalah zat hara yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik sesuai genetis dan potensi produksinya. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik ataupun non-organik (sintetis). Pupuk organik bisa dibuat dalam bermacam-macam bentuk meliputi cair, curah, tablet, pelet, briket, atau granul. Pemilihan bentuk ini tergantung pada penggunaan, biaya, dan aspek-aspek pemasaran lainnya. Pupuk organik cair adalah jenis pupuk berbentuk cair tidak padat mudah sekali larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk organik cair mempunyai banyak kelebihan diantaranya, pupuk tersebut mengandung zat tertentu seperti mikroorganisme jarang terdapat dalam pupuk organik padat dalam bentuk kering (Syefani dan Lilia dalam Mufida, 2013: 15).
Pupuk organik cair adalah larutan yang berasal dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, lotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik cair adalah sercara cepat mengatasi defisiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara yang cepat. Dibandingkan dengan pupuk anorganik cair, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk organik cair juga memiliki bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan kepermukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman (Hadisuwito, 2007: 14).
Pupuk organik cair mengandung unsur kalium yang berperan penting dalam setiap proses metabolismetanaman, yaitu dalam sintesis asam amino dan protein dari ion-ion ammonium serta berperan dalam memelihara tekanan turgor dengan baik sehingga memungkinkan lancarnya proses-proses metabolisme dan menjamin kesinambungan pemanjangan sel (Purwowidodo 1992)


Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini antara lain :
1.      Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan pupuk cair organik dari berbagai jenis bahan alami yang mudah diperoleh di alam.
2.      Mahasiswa memahami fungsi/peranan pupuk cair organik bagi tanaman.
3.      Mahasiswa memahami proses-proses biokimia yang terjadi pada setiap tahap dalam pembuatan  pupuk cair  organik.












TINJAUAN PUSTAKA
 Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami (Musnamar, 2003). Dapat dikatakan bahwa pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman, dalam arti produk pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi. Secara kualitatif, kandungan unsur hara dalam pupuk organik tidak dapat lebih unggul daripada pupuk anorganik. Namun penggunaan pupuk organik secara terus-menerus dalam rentang waktu tertentu akan menjadikan kualitas tanah lebih baik dibanding penggunaan pupuk anorganik (Musnamar, 2003).
Selain itu penggunaan pupuk organik tidak akan meninggalkan residu pada hasil tanaman sehingga aman bagi kesehatan manusia. Bahkan produk-produk yang dihasilkan akan diterima negara-negara yang mensyaratkan ambang batas residu yang sudah diberlakukan pada produk tertentu seperti teh dan kopi. Saat ini ada beberapa jenis pupuk organik sebagai pupuk alam berdasarkan bahan dasarnya, yaitu pupuk kandang, kompos, humus, pupuk hijau, dan pupuk mikroba (Musnamar, 2003).
Banyaknya kandungan unsur hara yang ada di dalam lahan pertanian yang ada di lahan dapat dilihat secara sederhana dari penampakan warna tanaman di Lahan. Misalnya ada tanaman yang terlihat hijau sementara yang lainnya terlihat kekuningan. Tanaman hijau menggambarkan bahwa tanah tersebut mempunyaicukup unsur hara. Sedangkan tanaman yang berwarna kuning biasanya menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak cukup mempunyai unsur hara.
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia (Musnawar, 2003)
Pupuk organik cair adalah larutan yang berasal dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, lotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik cair adalah sercara cepat mengatasi defisiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara yang cepat. Dibandingkan dengan pupuk anorganik cair, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk organik cair juga memiliki bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan kepermukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman (Hadisuwito, 2007).
Pupuk organik cair mengandung unsur kalium yang berperan penting dalam setiap proses metabolismetanaman, yaitu dalam sintesis asam amino dan protein dari ion-ion ammonium serta berperan dalam memelihara tekanan turgor dengan baik sehingga memungkinkan lancarnya proses-proses metabolisme dan menjamin kesinambungan pemanjangan sel (Purwowidodo 1992)
Pupuk organik bukan hanya berbentuk padat dapat berbentuk cair seperti
pupuk anorganik. Pupuk cair sepertinya lebih mudah di manfaatkan oleh tanaman
karena unsur-unsur di dalamnya sudah terurai dan tidak dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga manfaatnya lebih cepat terasa. Bahan baku pupuk cair dapat berasal dari pupuk padat dengan perlakuan perendaman. Setelah beberapa minggu dan melalui beberapa perlakuan, air rendaman sudah dapat digunakan sebagai pupuk cair (Pranata, 2004).
Banyaknya kandungan unsur hara yang ada di dalam lahan pertanian yang ada di lahan dapat dilihat secara sederhana dari penampakan warna tanaman di Lahan. Misalnya ada tanaman yang terlihat hijau sementara yang lainnya terlihat kekuningan. Tanaman hijau menggambarkan bahwa tanah tersebut mempunyaicukup unsur hara. Sedangkan tanaman yang berwarna kuning biasanya menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak cukup mempunyai unsur hara.
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia(Pranata, 2004)









BAHAN DAN METODE
Bahan
Bahan dalam praktikum ini adalah :
1.      Gulma babadotan 1 kg
2.      Air kelapa 1 liter
3.      Bintil akar legum 1 kg (Rizobium)
4.      Gula pasir 10 sendok
Alat
            Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Ember.
2.      Tumbukan (lesung)
3.      Pisau

Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari Senin, 5 Desember 2016. Pada pukul 07.30 - selesai. Tempat di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur kerja
            Prosedur kerja dalam praktikum adalah sebagai berikut :
1.      Menyediakan alat dan bahan.
2.      Mencuci babadotan dan bintil akar, kemudian ditumbuk halus.
3.      Memasukan air kelapa yang dicampur dengan gula pasir kedalam ember dan diaduk hingga merata.
4.      Kemudian Memasukan hasil tumbukan gulma babadotan dan bintil akar legumke dalam larutan yang ada di dalam ember, kemudian diaduk hingga merata.
5.      Ember ditutup rapat dan diamkan selama lebih kurang 2-3minggu.
6.      Hasil cairan disaring dan siap diaplikasikan.

















HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari praktikum ini berupa gambarproses pembuatan biopestisida yang dapat dilihat pada beberapa tabel berikut :
Tabel. Proses Pembuatan Pupuk Cair Organik
No
Keterangan
Gambar
1
Menyiapkan bahan.
2
Menyiapkan alat.
3
Menghaluskan bahan bahan yang akan digunakan sebagai pupuk cair organik .
4
Mencampurkan semua bahan yang telah dihaluskan dengan air dan sepuluh sendok gula kemudian diaduk sampai merata.
5
Hasil cairan di diamkan selama 2-3minggu
Pembahasan
Pupuk organik merupakan pupuk yang bahannya berasal dari bahan organik seperti: tanaman, hewan ataupun limbah organik. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik misalnya: jerami, tanaman perdu, tanaman legum, sekam, bekas gergajian kayu, dll. Pupuk organik menjadi bahan untuk perbaikan struktur tanah yang terbaik dan alami. Pemberian pupuk organik pada tanah akan memperbaiki struktur tanah dan menyebabkan tanah mampu mengikat air lebih banyak.
Pupuk organik memiliki ciri-ciri umum memiliki kandungan hara rendah, namun  kandungan hara bervaraiasi tergantung bahan yang digunakan; ketersediaan unsur hara lambat, hara tidak dapat langsung diserap oleh tanaman, memerlukan perobakan atau dikomposisi baru dapat terserap oleh tanaman; jumlah hara tersedia dalam jumlah yang terbatas.
Meski memiliki kelemahan pupuk organik mempunyai banyak kelebihan dan keuntungan. Penggunaan pupuk organik membuat tanah menjadi gembur sehingga mudah terjadi sirkulasi udara dan mudah ditembus perakaran tanaman. Untuk tanah yang bertekstur pasiran bahan organik akan meningkatkan pengikatan antar partikel tanah dan meningkatkan kemampuan mengikat air. Selain memperbaiki sifat fisik tanah pupuk organik juga memperbaiki sifat kimia tanah, yaitu dengan membantu proses pelapukan  bahan mineral. Bahan organik juga memberikan makanan bagi kehidupan mikrobia dalam tanah. Bahan organik dalam tanah mempengaruhi jumlah mikrobia yang ada dalam tanah.
Pupuk organik terdiri dari beberapa jenis, salah satunya adalah pupuk cair. Pupuk cair merupakan pupuk organik yang berbentuk cair yang digunakan untuk menyuburkan tanah/ memberikan unsur hara bagi tanaman.  Pupuk cair terbuat dari bahan – bahan yang berasal dari alam seperti hijauan dan kotoran ternak yang difermentasi atau dilarutkan dalam air. Dalam pembuatannya, biasanya ada jenis pupuk cair yang difermentasi / diperam dengan menggunakan EM4. EM4 dalam pembuatan pupuk cair berperan sebagai bahan pengurai sehingga bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk dapat terurai dengan cepat, sedangkan gula yang ditambahkan dalam pembuatan pupuk cair berperan sebagai sumber energi/ bahan makanan bagi mikroorganisme yang terdapat dalam larutan EM4.
Penggunaan pupuk cair dalam kegiatan pemupukan tanaman akan memberikan beberapa manfaat, diantaranya yaitu pupuk cair lebih mudah terserap oleh tanamn karena unsur-unsur di dalamnya sudah terurai. Tanaman menyerap hara terutama melalui akar, namun daun juga punya kemampuan menyerap hara. Sehingga ada manfaatnya apabila pupuk cair tidak hanya diberikan di sekitar tanaman, tapi juga di atas daun-daun. Penggunaan pupuk cair lebih memudahkan pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair berarti kita melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu : Memupuk tanaman, menyiram tanaman dan mengobati tanaman.
Dalam pertumbuhannya tanaman memerlukan tiga unsur hara penting, yaitu nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K). Peranan utama nitrogen (N) adalah untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terutama pada fase vegetatif, khususnya batang, cabang, dan daun. Selain itu, nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan hijau daun (klorofil) yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Fungsi lainnya ialah membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan organik lainnya. POC dengan unsur hara N
Nitrogen menjadi sangat penting bagi tanaman pada fase vegetatif. Kekurangan hara ini akan menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Mula-mula daun menguning dan mengering, lalu rontok. Daun yg menguning diawali dari daun bagian bawah, lalu disusul daun bagian atas.
Pupuk organik cair menggunakan bahan utama gulma babadotan yang banyak mengandung unsur hara N dan bersimbiosis dengan bintil akar legum yang berfungsi sebagai pengikat unsur hara N dengan demikian pupuk organik cair ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terutama pada fase vegetatif, khususnya batang, cabang, dan daun. Untuk pembentukan hijau daun (klorofil) yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Untuk membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan organik lainnya.






KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil praktikum ini dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Dalam pertumbuhannya tanaman memerlukan tiga unsur hara penting, yaitu nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K).
2.      Pupuk organik merupakan pupuk yang bahannya berasal dari bahan organik seperti: tanaman, hewan ataupun limbah organik.
3.      Pupuk cair organik merupakan pupuk organik yang berbentuk cair yang digunakan untuk menyuburkan tanah/ memberikan unsur hara bagi tanaman.
4.      Pupuk organik cair menggunakan bahan utama gulma babadotan banyak mengandung unsur hara N sampai 6,66 %.
5.      Fungsi nitrogen (N) bagi tanaman berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terutama pada fase vegetatif, khususnya batang, cabang, dan daun.
Saran
Jaga keakraban antara praktikan dan asdos. Sebelum mulai praktikum awali do’a dan akhiri do’a.





DAFTAR PUSTAKA.

Purwowidodo 1992. Mikrobiologi Dalam Pertanian. Agronomi Pertanian UNPAR, Palangkaraya.

Syefani dan Lilia dalam Mufida, 2013: 15 Pupuk Organik Cair dan Mikro Organisme Lokal. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.

Hadisuwito, 2007: 14. Pupuk Organik Cair sebagai pemicu siklus kehidupan dalam bioreaktor tanaman. Gajah Mada University Yogyakarta.

Suriadikarta. 2006.Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Jawa Barat: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian




Infiltrasi





Infiltrasi  Air

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Infilrasi merupakan proses masuknya air dari permuakan kedalam tanah. Infiltarasi berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran permukaan atau run off. Infiltrasi dari segi hidrologi penting, karena hal ini menandai peralihan air permukaan yang bergerak cepat ke air tanah yang bergerak lambat dari air tanah.( Hardjowigeno, 1993).
Kapasitas infiltrasi suatu tanah dipengaruhi sifat–sifat fisiknya drajat kemapatannya, kandungan air dan permiabilitas lapisan bawah permukaan nisbi air dan iklim mikro tanah. Air yang berinfiltrasi pada suatu tanah hutan karena pengaruh gravitasi dan daya tarik kapiler atau disebabkan pula oleh tekanan dari pukulan air hujan pada permukaan tanah. Proses berlangsungnya air masuk ke permuakan tanah kita kenal dengan infiltrasi. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh tekstur dan struktur, kelengasan tanah, kadar materi tersuspensi dalam air juga waktu (Suripin, 2001).
Untuk mengumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
• Inflow-outflow
• Analisis data hujan dan hidrograf
• Double ring inflometer
Dari ketiga cara tersebut yang paling sering digunakan pengukuran infiltrasi dilapangan yaitu dengan menggunakan double ring inflometer. Double ring infiltometer merupakan cara yang termudah dilakukan dimana selain pengukuran yang mudah dilakukan juga bahan untuk membuat alatnya mudah dicari (Rully, 2001).
Dalam bidang konservasi tanah, infiltrasi merupakan komponen yang sangat penting karena masalah konservasi tanah pada azasnya adalah pengaturan hubungan antara intensitas hujan dan kapasitas infiltrasi, serta pengaturan aliran permukaan. Aliran permukaan hanya dapat diatur dengan memperbesar kemampuan tanah menyimpan air, utamanya dapat ditempuh melalui perbaikan atau peningkatan kapasitas infiltrasi. Kapasitas infiltrasi merupakan laju maksimum air yang dapat masuk ke dalam tanah pada suatu saat (Kurnia, dkk, 2006).
Tujuan
            Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh lahan yang bervegetasi rumput dan tidak bervegetasi terhadap infiltrasi.

TINJAUAN PUSTAKA

Infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan) masuk ke dalam tanah. Laju maksimal masuknya air masuk ke dalam tanah dinamakan kapasitas infiltrasi. Kapasitas infiltrasi terjadi ketika intensitas hujan melebihi kemampuan tanah dalam menyerap kelembaban tanah. Sebaliknya, apabila intensitas hujan lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sama dengan curah hujan. Laju infiltrasi umumnya dinyatakan dalam satuan yang sama dengan satuan intensitas curah hujan, yaitu millimeter perjam (Asdak, 1995).
Apabila kapasitas infiltrasi lebih kecil dari intensitas hujan, dapat menyebabkan terjadinya banjir dan erosi. Laju infiltrasi pada suatu lokasi akan berbeda dengan lokasi lainnya, bergantung pada berbagai faktor seperti tekstur tanah, bahan organik, struktur tanah, kadar air tanah, porositas tanah. Besarnya laju infiltrasi dapat ditentukan melalui suatu model yang telahdikembangkan oleh para peneliti, diantaranya adalah model yang dikembangkan oleh Philips. Pengetahuan laju infiltrasi pada suatu lokasi atau wilayah  sangat penting, terutama pada daerah dengan curah hujan tinggi dan berlereng dengan kecuraman
tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya run off dan erosi dalam mempertahankan kelestarian lahan (Asdak, 2002).
            Infiltrometer merupakan suatu tabung baja silindris pendek, berdiameter besar (suatu batas kedap air lainnya) yang mengitari suatu daerah dalam tanah. Ring infiltrometer utamanya digunakan untuk menetapkan infiltrasi komulatif, laju infiltrasi, sorptivitas dan kapasitas infiltrasi. Ada dua bentuk ring infiltrometer, yaitu single ring infiltrometer dan double atau concentric-ring infiltrometer. Single ring infiltrometer umumnya berukuran diameter10-50 cm dan panjang atau tinggi 10-20 cm. Ukuran double ring infiltrometer adalah ring pengukur/ring dalam umumnya berdiameter 10-20 cm, sedangkan ring bagian luar (ring penyangga/buffer ring) berdiameter 50 cm. Untuk tujuan tertentu sering digunakan ukuran ring yang lebih besar atau lebih kecil. Namun demikian, penggunaan ring yang terlalu kecil juga menyebabkan semakin tingginya tingkat kesalahan (error) pengukuran (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2006).
   Faktor- faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah tekstur tanah, kerapatan massa (bulk density), permeabilitas, kadar air tanah dan vegetasi. Semakin rendah nilai kerapatan massa (bulk density) tanah, semakin besar volume pori tanah, dan semakin remah tanahnya maka laju infiltrasi akan semakin besar. Bila ditinjau dari sudut vegetasi maka semakin besar penetrasi akar, semakin besar daya serap akar, semakin tinggi akumulasi bahan organik tanah maka laju infiltrasi akan semakin besar (Asdak,1995).
Beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah tinggi genangan air di atas permukaan tanah dan tebal lapisan tanah yang  jenuh, kadar air atau lengas tanah, pemadatan tanah oleh curah hujan,  penyumbatan pori tanah mikro oleh partikel tanah halus seperti bahan endapan dari partikel liat, pemadatan tanah oleh manusia dan hewan akibat traffic line oleh alat olah, struktur tanah, kondisi perakaran tumbuhan baik akar aktif maupun akar mati (bahan organik), proporsi udara yang terdapat dalam tanah, topografi atau kemiringan lahan, intensitas hujan, kekasaran permukaan tanah, kualitas air yang akan terinfiltrasi serta suhu udara tanah dan udara sekitar (Sophia, 2011).
Sifat bagian lapisan suatu profil tanah juga menentukan kecepatan masuknya air ke dalam tanah. Ketika air hujan jatuh di atas permukaan tanah, maka proses infiltrasi tergantung pada kondisi biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir masuk ke dalam tanah melalui pori- pori permukaan tanah. Proses mengalirnya air hujan ke dalam tanah disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi dan gaya kapiler tanah. Oleh karena itu, infiltrasi juga  biasanya disebut sebagai aliran air yang masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler dan gravitasi. Laju air infiltrasi yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi dibatasi oleh besarnya diameter pori-pori tanah. Tanah dengan pori-pori jenuh air mempunyai kapasitas lebih kecil dibandingkan dengan tanah dalam keadaan kering (Sophia, 2011).
   Persamaan laju infiltrasi adalah laju air yang meresap ke dalam tanah, yang besarnya dinyatakan dalam mm/jam. Laju infiltrasi ini sangat besar pengaruhnya di dalam rancangan-rancangan untuk cara pemberian air, periode dan lamanya pemberian air beserta besarnya air yang harus diberikan. Kemampuan tanah menyerap air akan semakin berkurang dengan makin bertambahnya waktu. Pada tingkat awal kecepatan penyerapan air ini akan mendekati konstan. Laju infiltrasi (f) kapasitas infiltrasi (fp). Hal ini di pengaruhi oleh intensitas hujan. Jika intensitas hujan < kapasitas infiltrasi maka laju infiltrasi akan < kapasitas infiltrasi, dan jika > maka laju infiltrasi akan = kapasitas infiltrasi. Persamaan Horton (1930) : f = fc + (f0-fc) e(-kt). Dimana : f = kapasitas infiltrasi pada saat t (cm/jam) = kapasitas infiltrasi pada saat konstan (cm/jam) = kapasitas infiltrasi pada saat awal (cm/jam) k = konstanta t = waktu dari awal hujan e = 2.718 (Rully, 2001).








BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan
   Bahan  pada praktikum ini adalah air yang digunakan sebagai bahan utama infiltrasi pada tanah yang bervegatasi.

Alat
   Alat  pada praktikum ini adalah sebagai berikut : double ring infiltrometer sebagai alat infiltrasi, ember sebagai tempat menuangkan air, plastik sampah besar sebagai penyangga air sebelum menuangkan ke tanah, palu sebagai pemukul balok kayu, balok kayu untuk memudahkan alat untuk menancapkan ke tanah, stopwach sebagai penghitung waktu infiltrasi, penggaris sebagai alat pengukur tinggi air, dan alat tulis untuk mencatat hasil infitrasi.

Waktu dan Tempat
          Praktikum ini dilaksankan pada hari Sabtu 3 Desember 2016 pada jam 08.00-10.00 WITA. Tempat pelaksanaan di Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.        Menyiapkan alat dan bahan untuk infiltrasi.
2.        Posisikan tabung bagian dalam dengan sisi tajam mengarah ke bawah.
3.        Meletakkan balok kayu pengatur diatas tabung dan gunakan palu untuk memasukkan tabung dengan kedalaman kurang lebih 5 cm ke dalam tanah.
4.        Lakukan dengan hati-hati sehingga tidak merusak tanah. Letakkan tabung bagian luar dan dengan bantuan balok kayu pengatur serta palu masukkan tabung bagian luar tersebut ke dalam tanah sehingga ketinggian ke dua tabung tersebut sama.
5.        Isi ring bagian luar dengan air secukupnya agar bagian dalam saat diisi air tidak merembes ke samping.
6.        Masukkan dan sangga ring bagian dalam dengan plastik besar, kemudian isi dengan air.
7.        Tarik sedikit demi sedikit plastik penyangga tersebut agar tidak merusak struktur tanahnya, kemudian telakkan penggaris untuk mengukur tinggi air dan infiltrasinya.
8.        Mencatat data infiltrasi dan melihat waktunya dengan stopwach.






HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
                

Hasil dari praktikum ini berupa tabel pengamatan infiltrasi di lapangan menggunakan double ring infiltrometer.
Tabel 1. Hasil Pengamatan infiltrasi di lahan bervegetasi rumput.
Waktu kumulatif (detik)
Waktu (s)
tinggi air (cm)
f (cm/s)
 0,0
0,26
7,8
7,8
2
0,10
28,7
20,9
2
0,09
50,4
21,7
2
0,07
79,0
28,6
2
0,06
113,0
34
2
0,05
153,0
40
2
0,05
193,0
40
2
0,05
233,0
40
2

Waktu (menit)
f observasi (cm/mnt)
0
15,38
0,13
5,74
0,48
5,53
0,84
4,2
1,32
3,53
1,88
3
2,55
3
3,22
3


Fo =
m =
-0,980
Fc =
K=
= -1/(0,434*m)
e =


Tabel 2. Hasil pengamatan infiltrasi di lahan tidak bervegetasi rumput.
Waktu kumulatif (detik)
Waktu (s)
tinggi air (cm)
f (cm/s)
0,0
0,00228
438,0
438
1
0,00149
1107,0
669
1
0,00114
1985,0
878
1
0,00091
3089,0
1104
1
0,00072
4469,0
1380
1
0,00061
6112,0
1643
1
0,00026
8023,0
1911
0,5
0,00024
10074,0
2051
0,5
0,00022
12300,0
2226
0,5

Waktu (menit)
f observasi (cm/mnt)
0,00
0,137
7,30
0,090
18,45
0,068
33,08
0,054
51,48
0,043
74,48
0,037
101,87
0,016
133,72
0,015
167,90
0,013


Fo =
0,14
m =
-63,080
Fc =
0,01
K=
0,037
= -1/(0,434*m)
e =
2,718


Pembahasan
Infilrasi merupakan proses masuknya air dari permuakan kedalam tanah. Infiltarasi berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran permukaan atau run off.  Infiltrometer merupakan suatu tabung baja silindris pendek, berdiameter besar (suatu batas kedap air lainnya) yang mengitari suatu daerah dalam tanah. Ring infiltrometer utamanya digunakan untuk menetapkan infiltrasi komulatif, laju infiltrasi, sorptivitas dan kapasitas infiltrasi. Ada dua bentuk ring infiltrometer, yaitu single ring infiltrometer dan double atau concentric-ring infiltrometer.
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah tekstur tanah, kerapatan massa (bulk density), permeabilitas, kadar air tanah dan vegetasi. Semakin rendah nilai kerapatan massa (bulk density) tanah, semakin besar volume pori tanah, dan semakin remah tanahnya maka laju infiltrasi akan semakin besar.
Pada setiap menit kecepatan infiltrasi menurun karena dipengaruhi oleh tinggi genangan air di atas permukaan tanah dan tebal lapisan tanah yang  jenuh air, pada awal genangan air diatas tanah tinggi maka kecepatan infiltrasi akan tinggi, karena  tarikan gaya gravitasi dan gaya kapiler tanah yang besar. Oleh karena itu, infiltrasi juga  biasanya disebut sebagai aliran air yang masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler dan gravitasi. Sedangkan pada akhir atau setelah lama laju infiltrasi akan menurun karena pori-pori tanah sudah terisi dengan air, kadar penyerapan air dalam tanahnya sudah jenuh menyebabkan laju infiltrasi menurun.
Dari hasil praktikum diatas, pada tabel 1 infiltrasi pada lahan yang bervegatasi cenderung laju infiltrasinya cepat, bisa dilihat dari konstanta (K) pada lahan yang bervegetasi yaitu 2,35. Hal ini disebabkan oleh faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi pada lahan yang bervegatasi,  yaitu adanya vegetasi pada suatu lahan  akan berarti banyak terdapat akar pada vegetasi tersebut, adanya akar juga mempengaruhi pori-pori tanah , semakin besar penetrasi akar, semakin besar daya serap akar, semakin tinggi akumulasi bahan organik tanah maka laju infiltrasi akan semakin besar. Pada grafiknya juga terlihat laju infiltrasi yang cepat pada awal waktu pertama, hal ini karena pada tanahnya mempunyai pori-pori yang belum terpenuhi air dan jenuh air serta akibat gaya gravitasi, pada waktu yang semakin lama laju infiltrasi akan menurun dan konstan karena pori-pori tanah sudah terpenuhi airdan lajunya konstan.
Pada tabel 2 infiltrasi pada lahan yang tidak bervegetasi rumput nilai konstanta (K) yaitu 0,037. Ini berarti nilai konstanta atau kecepatan infiltrasinya lebih rendah dibandingkan dengan lahan yang bervegetasi rumput karena







KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.         

Saran
Praktikum ini sebaiknya lebih dipelajari dan dipahami lagi untuk bisa diaplikasikan dalam kemampuan infiltrasi sebuah lahan untuk digunakan dalam bidang pertanian dan sebagainya.





DAFTAR PUSTAKA
Asdak, Chay. (1995). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Air Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Yogyakarta.

Asdak. C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2006. Balai Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Bogor.

Hardjowigeno, S., 1993. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta. 320 Hal

Kurnia, U., dkk., 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Balai Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.

Rully, Yanrilla. 2001. Besarnya Laju Infiltrasi pada Berbagai Jenis Penutupan Lahan.

Sophia N.P. 2011. Penuntun Praktikum Hidrologi. Jatinangor: Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian Universitas Padjadjaran.

Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit Andi, Yogyakarta.